s

Selamat datang di WeBlog Imaduddin.B, Amd.AK

Sabtu, 18 April 2009

Perjalanan di tengah kota Indramayu

Kemarin sudah sekian kalinya saya melintasi tengah kota Indramayu, suasana yang rame setelah pemilu ini saya anggap bukan hal yang biasa. Spanduk atau atribut yang seharusnya bersih ketika pemilu sampai sekarang masih menyisakan atribut di perempatan lampu merah. Kenapa ya?

Memang, kalo saya ke Indramayu tidak hanya main dan muter – muter saja, yang pasti ada tujuan utamanya yaitu ke tempat DEPNAKER. Biasalah tidak lain dan tidak bukan, untuk membuat Kartu Kuning!. Seperti rute taun kemaren, saya dating ke tempat tersebut yang saya anggap adalah DEPNAKER, padahal sebelumnya saya sudah baca di depan gedung tersebut adalah Badan Narkotik Indramayu! Lho? Memang benar setelah saya masuk ke parkirannya, tempat yang dulu, tidak ada sama sekali. Setelah saya Tanya memang DEPNAKER sudah pindah ke depan KODIM. Jadi ngga jauh dari terminal Sindang dan POLRES Indramayu, sekalian buat SKCK-nya deket.

O ya, tempat yang baru ini terkesan seadanya. Kurang rapih aja gitu? Semoga taun – taun kedepannya, gedung milik pemerintahan di Indramayu selayaknya gedung pemerintahan. Kalo ada ISO buat gedung pemerintahan kenapa ngga di ikutin, buat percontohan aja. Sumber daya manusianya ditingkatkan! SEMANGAT… MAJU LAH INDRAMAYUKU…..

Minggu, 12 April 2009

D’APRIL

Diawal bulan April ini banyak kisah yang mungkin tidak mudah dilupakan, kenyataan hidup yang serba tak menentu mengawali segala perjalanan dan cerita hidup saya.
Penataan hidup yang haq dan bathil masih semu dalam pikiran ini, kebebasan untuk menjalaninya membuat langkah kaki terasa ringan dan berat disuatu hari.

Semua jalan hidup tidak akan semudah itu kita tolak, semua sudah ada aturannya. Kita merangkai kata – kata cinta diawal hari, mungkin saja ujungnya menjadi sebuah benih kegelapan. Kita menyirami tanaman di rumah, mungkin saja suatu hari tanaman itu kering dan mudah terbakar, sehingga rumah kitapun ikut terbakar.
Dalam hidup ini memang tidak ada kepastian, kepastian yang ingin kita atur dan direncanakan semua harus sirna bersama waktu.

Hidup merupakan sebuah pilihan, itulah hak manusia didunia ini. Memilih dengan tidak memaksakan kehendak orang lain, agamaku mengajarkannya. Namun, kebebasan memilih tersebut tidak harus lepas dari konsekuensinya. Saya tahu itu?, konsekuensi yang kita tanam sejak benih, akan menghancurkan perjalanan sejarah hidup kita sendiri.
Sebuah kehidupan yang seharusnya menyinari dihari tua, kehidupan yang mendamaikan jejak langkah kita. Itulah tujuan hidupku, sejahtera dengan Penataan hidup yang haq, damai dengan kesejateraan yang menjamin kelayakan hidup manusia.